Kabar

Kabar Pesantren

Kulliyah Diniyah Menjadi Puncak Haflah Imtihan Pesantren Bahrul Ulum 2025

Karangharjo, Puncak Haflah Imtihan 2025 Pesantren Bahrul Ulum berlangsung semarak dan penuh makna dengan digelarnya Kulliyah Diniyah, sebuah forum keilmuan yang menjadi puncak dari rangkaian Haflah Imtihan tahun ini. Diselenggarakan pada malam harinya dengan nuansa spiritual dan intelektual yang kuat, acara ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional, KH. Abdul A’la Basyir (Pengasuh PP. Annuqayah, Anggota Majelis Masyayikh Republik Indonesia, Ra'is Syuriyah PBNU), KH. Miftah Faqih (Ketua PBNU Bidang OKK), KH. Ulil Abshar Abdalla (Ketua PBNU Bidang Keagamaan), KH. Ulun Nuha (pengurus PBRMI).

Acara diawali dengan sambutan hangat dari Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum, KH. Hodri Ariev. Beliau menekankan bahwa Kulliyah Diniyah bukan sekadar seremonial akhir tahun, tetapi merupakan puncak dari proses pendidikan dan pembentukan karakter santri yang berlangsung sepanjang tahun.

 “Kita tidak hanya mengantarkan santri menjadi manusia pandai, tetapi juga manusia yang berakhlaq. Pendidikan di pesantren harus melahirkan insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga baik dalam akhlaq, kuat dalam integritas, dan kokoh dalam komitmen pada nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” tegas KH. Hodri Ariev di hadapan ribuan hadirin.

KH. Ulun Nuha dalam pemaparannya mengajak para hadirin untuk tidak silau dengan capaian instan. Menurutnya, membangun akhlaq bukanlah pekerjaan sehari dua hari, tapi sebuah proses panjang yang memerlukan ketekunan.

 “Jangan tergoda oleh kecepatan zaman. Membangun akhlaq butuh waktu, kesabaran, dan keteladanan. Semua yang besar dimulai dari satu titik kecil yang ditekuni terus menerus,” ujar beliau dengan suara tenang yang menenangkan.

KH. Ulil Abshar Abdalla memberikan refleksi kritis tentang tantangan zaman modern terhadap nilai-nilai akhlaq. Beliau menyoroti bahwa arus individualisme dan pragmatisme telah menjauhkan manusia dari nilai-nilai luhur yang selama ini dijaga oleh pesantren.

“Akhlaq itu tidak bisa diajarkan tanpa keteladanan. Hari ini, kita hidup dalam masyarakat yang terlalu menjunjung semangat individualisme asal tidak mengganggu orang lain, dianggap cukup. Padahal, dalam Islam, akhlaq tidak hanya soal tidak mengganggu, tapi soal menjadi rahmat bagi sekitar. Teladan adalah kunci dalam membentuk karakter,” tandasnya.

Sementara, KH. Miftah Faqih pun menambahkan dengan gaya khasnya, bahwa akhlaq bukan hanya warisan tradisi, tetapi juga fondasi transformasi. Menurutnya, dalam dunia yang semakin kompleks, hanya orang-orang yang berpegang pada nilai-nilai akhlaq yang akan mampu bertahan dan memberi makna bagi sekelilingnya.

“Orang berilmu tapi tak berakhlaq akan jadi bencana. Tapi orang yang berakhlaq meski sedikit ilmunya, akan selalu memberi manfaat. Maka pesantren harus jadi benteng terakhir dalam menjaga akhlaq bangsa,”

"Di manapun kamu berada, jadikan tawadhu’ sebagai kuncinya. Jangan biarkan waktu berjalan tanpa kreativitas. Manusia itu sejatinya adalah kumpulan waktu. Kalau waktunya hilang, maka hilanglah sebagian dari dirinya,” tegasnya disambut tepuk tangan dan sorak santri.

KH. Abdul A’la Basyir menyampaikan urgensi akhlaq dalam kehidupan modern yang sarat dengan kompetisi dan disrupsi. Ia menggarisbawahi bahwa akhlaq tidak hanya bisa diajarkan, tetapi harus dibiasakan sejak dini.

 “Akhlaq dibangun melalui pembiasaan. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti berkata jujur, bersikap sopan, dan tepat waktu. Jika dilakukan secara istiqamah, maka akan menjadi karakter yang melekat. Sebaliknya, akhlaq buruk, sekecil apapun, akan berdampak buruk pada orang lain dan lingkungan sekitar,” pesan beliau dengan nada lembut namun mendalam.

Acara Kulliyah Diniyah berlangsung hingga larut malam, namun semangat para santri dan hadirin tak surut sedikit pun. Suasana khidmat mewarnai malam puncak Haflah Imtihan. Banyak santri yang mencatat poin-poin penting dan berdiskusi setelah forum usai, sebagai bentuk antusiasme dan kesadaran bahwa mereka tengah dididik untuk menjadi penjaga nilai, bukan sekadar pembaca teks.

KH. Abdul Muqit Arif pembina yayasan Pesantren Bahrul Ulum menyampaikan bahwa Kulliyah Diniyah tahun ini bukan hanya menjadi forum ilmu, tetapi juga momentum kebangkitan moral dan spiritual para santri. Dalam era digital yang serba cepat dan praktis, nasihat-nasihat kiai menjadi pelita yang menuntun arah bahwa Islam bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi lebih dari itu tentang menjadi manusia yang bermanfaat. Kemudian beliau menutup acara dengan memimpimpin pembacaan do'a. Fth.

27 Juli 2024
Bahrul Ulum Menuju Pesantren Hybrid

Jember, 21 Juli 2024; Tahun Pendidikan 2024-2025 Pesantren Bahrul Ulum mencanangkan program “Bahrul Ulum Menuju Pesantren Hybrid”. Pilihan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan penting. Per

Load More
20 Juni 2025
Pesantren Bahrul Ulum Gelar Jalan Sehat Persaudaraan: Perkuat Ukhuwah dan Harmonisasi Dakwah

Karangharjo - Semangat persaudaraan dan sinergi dakwah antar pesantren kembali diteguhkan melalui kegiatan Jalan Sehat Persaudaraan yang digelar oleh Pesantren Bahrul Ulum, Karangharjo, Silo, Jembe

Load More
20 Juli 2024
Temu Alumni Pesantren Bahrul Ulum

Hari ini, 20 Juli 2024 jam 13:00 waktu setempat diselenggarakan Temu Alumni Pesantren Bahrul Ulum, acara ini termasuk dalam seragkaian acara Haflatul Imtihan Pesantren Bahrul Ulum 2024 berlangsung den

Load More
17 September 2024
Peletakan Batu Pertama Mushalla dan Perpustakaan Digital: Menuju Pesantren Hybrid

Karangharjo, 16 September 2024 - Pesantren Bahrul Ulum kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan sarana pendidikan dan ibadah dengan dimulainya pembangunan mushalla dan perpustakaan digital.

Load More
16 September 2024
Ikuti Pelatihan Sinematografi Film Dokumenter LTN-PBNU: Penunjang Pesantren Hybrid

Karangharjo, 8 September 2024 - Dalam upaya mewujudkan program Pesantren Hybrid, Pesantren Bahrul Ulum terus melakukan peningkatan kualitas medianya dengan mengirimkan dua santri, Muhammad Zainul Aziz

Load More